Kisah Nabi Yusuf AS


Nama : Yusuf bin Yaqub
Usia : 110 tahun
Periode Sejarah : 1745 - 1635 SM
Tempat Diutus : Mesir
Jumlah Keturunan : 3 Anak (2 laki-laki dan 1 perempuan)
Tempat Wafat : Nablus
Sebutan Kaum : Heksos dan Bani Israil
Dalam Al-Qur'an namanya disebutkan sebanyak 58 kali

Kisah Nabi Yusuf AS - Yusuf adalah salah satu dari 12 putra Nabi Yaqub AS. Rasa sayang Nabi Yaqub yang berlebihan terhadap Yusuf membuat saudara-saudaranya iri hati terhadapnya. Lebih dari itu, wajah Yusuf pun jauh lebih tampan di bandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.

Suatu hari Yusuf bermimpi tentang 11 bintang, matahari dan bulan turun dari langit dan bersujud di hadapannya. Ia menceritakan mimpinya ini kepada ayahnya. Nabi Yaqub sangat gembira mendengar cerita itu dan menyatakan bahwa Allah SWT akan memberikan kemuliaan, ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah bagi putranya.

Rencana Saudara-Saudaranya Membinasakan Yusuf

Saudara-saudara Yusuf merasa iri hati atas kelebihan kasih sayang yang dicurahkan ayah mereka kepada Yusuf dan adiknya, Bunyamin. Mereka mengadakan persekongkolan untuk membinasakan Yusuf. Salah satu dari mereka menyarankan agar jangan membunuhnya, tetapi membuangnya jauh-jauh ke dalam sumur agar ia tidak bisa kembali.

Setelah mereka berhasil membujuk ayahnya untuk mengizinkan mereka membawa Yusuf. Yusuf kecil diajak bermain-main oleh kakak-kakaknya, saat itulah mereka melaksanakan niat jahat untuk menyingkirkan Yusuf. Ketika sampai di suatu tempat, mereka menceburkan Yusuf ke dalam sebuah sumur yang sangat dalam. Baju Yusuf di koyak-koyak dan dilumuri darah kambing, kemudian dengan wajah sedih mereka menyampaikan berita pada sang ayah bahwa Yusuf telah meninggal di makan serigala. Kisah Nabi Yusuf dan perbuatan saudara-saudaranya ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Yusuf : 4-21.


Kisah Nabi Yusuf  Dan Zulaikha

Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Yusuf di tolong oleh seorang Kafilah yang lewat di tempat itu. Ia kemudian dibawa ke Mesir untuk dijual sebagai budak, hingga akhirnya dibeli oleh keluarga pembesar Mesir yang bernama Kitfir.

Wajah Yusuf yang sangat tampan itu membuat istrinya yang bernama Zulaikha terpikat. Suatu ketika pada saat suaminya tidak ada di rumah, Zulaikha mengajak Yusuf untuk berbuat tidak senonoh. Akan tetapi Yusuf menolak ajakan tersebut sehingga terjadilah ketegangan, sementara kejadian itu berlangsung, suami Zulaikha datang dan Zulaikha memutar balikkan fakta dengan mengatakan bahwa Yusuf telah berlaku tidak senonoh terhadapnya.

Kitfir sangat marah. Namun belum sempat ia berbuat sesuatu terhadap Yusuf, tiba-tiba bayi yang ada di sekitar tempat itu berbicara dengan fasihnya. Bayi itu mengatakan bahwa jika kemeja Yusuf robek di bagian depan maka Yusuflah yang bersalah, tetapi kalau kemeja Yusuf robek di bagian belakang maka Zulaikhalah yang bersalah. Setelah Kitfir memeriksa, ternyata yang robek adalah kemeja bagian belakang. Dengan demikian Yusuf pun selamat.

Cerita tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas, Zulaikha yang malu karena menjadi pembicaraan orang lalu mengndang istri-istri para pembesar Mesir ke rumahnya. Mereka diberi makan yang enak-enak, serta masing-masing diberi pisau untuk mengupas buah. Ketika mereka sibuk mengupas buah, Zulaikha menyuruh Yusuf keluar. Ketika mereka melihat wajah Yusuf, saking terpesonanya tanpa sadar mereka mengiris jari-jari mereka sendiri. Kini mereka mengerti mengapa Zulaikha begitu terpikat pada Yusuf. Sebagian dari mereka menyarankan Yusuf untuk menerima keinginan Zulaikha, lagi pula Zulaikha sendiri merupakan wanita yang sangat cantik. Mendengar itu, Nabi Yusuf berdoa agar tetap diberi keteguhan iman. Akhirnya atas permintaan Zulaikha yang merasa terhina, Nabi Yusuf di masukkan ke dalam penjara. Kisah ini terdapat dalam Al-Qur'an surat Yusuf : 22-35.

Kecerdasan Nabi Yusuf Menafsirkan Mimpi

Nabi Yusuf di karuniai oleh Allah kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Saat Nabi Yusuf di penjara, suatu hari dua orang temannya di penjara bercerita tentang mimpi mereka. Yang pertama adalah kepala tukang pembuat minuman bernama Nabu, bermimpi bahwa dirinya memeras anggur untuk membuat arak. Orang kedua adalah kepala tukang roti bernama Malhab, bermimpi bahwa dirinya memikul roti diatas kepalanya itu di makan oleh burung-burung. Nabi Yusuf pun menafsirkan mimpi mereka, ia berkata kepada kedua orang itu.

"Wahai engkau kepala tukang minuman, bergembiralah. Engkau akan memberi minum tuanmu dengan Khamr, yang berarti engkau akan dibebaskan karena engkau tidak terbukti terlibat persekongkolan melawan raja. Adapun engkau hai kepala tukang roti, maafkan aku dengan terpaksa aku mengatakan bahwa engkau akan di hukum mati dengan cara di salib dan burung-burung akan memakan sebagian kepalamu, karena engkau terbukti telibat persekongkolan melawan raja. Demikian putusan Allah sebagaimana yang aku terangkan, dan itu pasti terjadi karena aku tidak berbicara sembarangan melainkan apa yang telah di ilhamkan Allah kepadaku dalam menafsirkan mimpi kalian berdua."

Semua yang ditafsirkan Yusuf benar-benar terjadi, kepala minuman akhirnya menerima kebebasannya. Saat ia akan keluar, Yusuf berpesan padanya  agar ia menceritakan kepada raja perihal dirinya. Ia ingin raja meninjau kembali keputusannya karena sesungguhnya ia tidak bersalah. Akan tetapi, karena terlalu senangnya sehingga tukang minuman itu lupa pesan Nabi Yusuf yang mengakibatkan Yusuf harus tinggal di penjara beberapa tahun lagi. Kemampuan Nabi Yusuf dalam menafsirkan mimpi kedua temannya ini diceritakan dalam Al-Qur'an surat Yusuf : 36-42.

Mimpi Raja

Pada suatu hari raja mengalami mimpi yang sangat menggelisahkan dan menakutkan dirinya, ia lalu mengumpulkan dukun-dukun dan orang-orang pintar untuk meminta mereka menafsirkan mimpinya  Ia berkata ;

"Sesungguhnya aku telah bermimpi melihat 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus, dan aku bermimpi pula melihat 7 batang gandum hijau dan 7 batang gandum kering, maka terangkanlah takwil mimpi itu jika kalian mampu menafsirkannya"

Orang-orang yang ada di situ terkejut mendengar mimpi raja ini. Mereka merasa bingung dan memberikan jawaban yang tidak memuaskan dengan mengatakan bahwa mimpi itu tidak bisa ditafsirkan karena itu hanya mimpi yang kacau dari raja dan tidak memiliki makna apa-apa. Mereka sebenarnya memang tidak memiliki pengetahuan perihal tentang penafsiran mimpi.

Saat itu kepala tukang minuman mendengar mimpi raja dan jawaban dari para dukun dan orang-orang pintar itu, Ia pun teringat kembali pada Nabi Yusuf. Segera ia berkata pada orang-orang yang ada di ruangan itu.

"Aku sanggup memberitahu kalian tentang arti dari mimpi ini, di dalam penjara ada seorang pemuda bernama Yusuf. Aku dan kepala tukang roti pernah ditahan bersamanya. Kami pernah bermimpi dan telah diterangkan oleh Yusuf dan terbukti kebenarannya. Apabila paduka setuju mengirimkan aku kepada Yusuf, maka aku akan membawa penafsiran dari mimpi ini"

Akhirnya diutuslah kepala tukang minuman itu kepada Nabi Yusuf. Setelah berbincang-bincang dengan Nabi Yusuf dan menceritakan sebab-sebab kealpaannya terhadap pesan Nabi Yusuf. ia pun mengutarakan maksud kedatangannya.

"Hai Yusuf yang berkata benar, terangkanlah arti mimpi berikut. 7 ekor sapi gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi kurus dan 7 batang gandum hijau berdekatan dengan 7 batang gandum kering. Berilah fatwa kepadaku hai Yusuf tentang hakikat mimpi ini, supaya aku memberitahukannya kepada orang-orang di kerajaan, barangkali mereka mengetahui keutamaan dan kedudukan ilmumu"

Yusuf pun mulai menerangkan mimpi raja. Bukan hanya itu, ia menerangkan pula pemecahan kesulitan yang timbul dari arti mimpinya. Ia berkata ;

"Mesir akan mengalami 7 tahun yang subur, maka pada tahun-tahun itu, hendaklah kamu menanami tanahmu dengan gandum dan sya'ir. Kemudian hasil panennya kamu simpan dalam batang-batang gandumnya, dan jangan boros dalam pemakaian gunakan yang dibutuhkan saja. Setelah itu akan datang 7 tahun yang kering dimana kamu akan memakan persediaan gandum yang kamu simpan dan jangan pula dihabiskan supaya dapat digunakan sebagai bibit untuk tahun-tahun berikutnya. Setelah lewat tahun-tahun kering ini akan datang satu tahun yang subur dimana akan turun hujan dan tanah akan menghasilkan biji-bijian yang banyak dan sari buah-buahan seperti anggur dan zaitun." Kisah tentang mimpi raja ini diceritakan dalam surat Yusuf : 43-49.

Nabi Yusuf Di Bebaskan Dari Penjara

Kepala tukang minuman segera menyampaikan tafsir mimpi yang telah diterangkan Nabi Yusuf kepada raja, maka raja pun mengirim utusan untuk memanggil Yusuf dan menjelaskan kembali secara rinci. Akan tetapi, Nabi Yusuf enggan untuk keluar dari penjara sebelum namanya dibebaskan dari segala tuduhan yang difitnahkan kepadanya. Ia minta pihak kerajaan menyelidiki persekongkolan terhadap dirinya dan menanyai wanita-wanita yang menghadiri jamuan makan di rumah istri pembesar bekas majikannya dulu tentang sebab-sebab penahanannya supaya mereka menjadi saksi dalam perkaranya.

Permintaan Nabi Yusuf ini kemudian disampaikan kepada raja. Raja pun menyuruh para utusan untuk memanggil wanita-wanita itu dan menjelaskan fakta yang sebenarnya. Mereka pun bersaksi bahwa Yusuf memang tidak bersalah, dan bahwa istri pembesar Mesir, Zulaikha itulah yang merayu. Setelah adanya kesaksian dari wanita-wanita ini, Zulaikha sendiri tidak bisa menyangkal lagi, Akhirnya ia pun mengakui perbuatannya. Dengan demikian keluarlah Nabi Yusuf dari penjara dengan diri yang bersih dari segala tuduhan dan fitnah, raja juga kemudian merehabilitasi namanya di masyarakat. Allah telah mentakdirkan kedzaliman yang selama ini diterima oleh Nabi Yusuf berganti dengan kemuliaan. Kisah ini diterangkan dalam Al-Qur'an surat Yusuf : 50-53.

Kebenaran tentang Nabi Yusuf telah menambah kepercayaan raja kepadanya, sehingga ia kemudian mengangkatnya menjadi menteri yang mengurusi berbagai masalah ekonomi dan keuangan bagi negara Mesir. Inilah balasan Allah kepada hamba-hambanya yang shaleh. Kisah pengangkatan Nabi Yusuf dalam kedudukan yang mulia ini di terangkan dalam surat Yusuf : 54-57.


Pertemuan Nabi Yusuf Dengan Saudara-saudaranya

Tafsir mimpi yang telah diterangkan Nabi Yusuf, kemudian benar-benar terwujud. Pada masa 7 tahun yang subur. Nabi Yusuf telah memerintahkan rakyat Mesir untuk menyimpan kelebihan biji-bijian dari hasil tanaman mereka, kemudian datanglah masa paceklik pada 7 tahun berikutnya. Timbul bencana kelaparan dan kekeringan, terutama di negeri-negeri tetangga lantaran ketiadaan persiapan penduduk untuk menghadapinya, termasuk Palestina dimana keluarga Nabi Yusuf tinggal. Nabi Yaqub dan anak-anaknya juga mengalami kesulitan ini. Ia mendengar bahwa di Mesir ada persediaan makanan yang cukup, maka ia pun menyuruh anak-anaknya kecuali Bunyamin untuk pergi ke Mesir dengan membawa perbekalan berupa barang-barang dan perak serta lainnya untuk di tukar dengan gandum dan sya'ir.

Ketika mereka tiba di istana kerajaan Mesir dan bertemu dengan Yusuf, melihat raut wajah dan pkaian mereka yang menunjukkan bahwa mereka berasal dari Palestina, tahulah Yusuf bahwa itu adalah saudara-saudaranya. Namun mereka tidak mengenali dirinya dikarenakan kondisi Nabi Yusuf yang sudah jauh berubah, pakaiannya yang khusus dan logat bicaranya yang menggunakan bahasa Mesir Kuno. Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya layaknya seorang tamu dan menimbang gandum dan sya'ir bagi mereka dengan takaran yang dilebihkan serta memberi bekal untuk perjalanan pulang mereka. Ketika mereka bersiap-siap akan pergi, Nabi Yusuf berkata ;

"Bawalah kepadaku seorang lagi saudaramu yang seayah denganmu. Jika kalian tidak membawanya, maka aku tidak akan mau menukarkan makanan lagi bagi kalian jika kalian kembali ke Mesir untuk kedua kalinya."

Mereka pun berkata "Kami akan membujuk ayah kami supaya beliau mengizinkan kami membawanya ke Mesir, dan kami tegaskan kepadamu bahwa kami akan melaksanakan perintahmu."

Ketika mereka hendak berangkat pulang, Nabi Yusuf menyuruh pelayan menyisipkan kembali barang-barang saudaranya yang telah ditukar dengan gandum dan sya'ir kedalam karung tanpa sepengetahuan mereka. Hal ini dimaksudkan supaya mereka merasa senang dan berbaik sangka padanya, sehingga mereka akan kembali lagi ke Mesir untuk berharap akan mendapatkan lebih banyak lagi kebaikan darinya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf kembali ke Palestina dan menceritakan tentang kebaikan dari menteri ekonomi Mesir serta penghormatan yang mereka terima, mereka juga menyampaikan permintaan menteri Mesir itu agar mereka membawa Bunyamin jika nanti mereka hendak kembali lagi ke Mesir.

Rupanya setelah ditinggalkan oleh Nabi Yusuf, Nabi Yaqub sangat berduka. Setiap hari ia menangis sampai matanya memutih dan buta. Mendengar permintaan yang disampaikan saudara-saudara Nabi Yusuf ini, Nabi Yaqub tidak mempercayai mereka. Namun mereka terus membujuk dan mengatakan bahwa jika Bunyamin tidak mereka bawa, mereka tidak akan mendapatkan makanan lagi dari menteri Mesir itu. Mereka juga berjanji akan menjaga Bunyamin dengan sebaik-baiknya dan tidak akan menyia-nyiakannya. Setelah mendengar janji putra-putranya ini, hati Nabi Yaqub menjadi lebih tenteram. Akhirnya dengan berat hati, Nabi Yaqub pun mengizinkan mereka membawa Bunyamin. Ia juga berpesan supaya masuk kota melalui beberapa pintu agar tidak menarik perhatian. Kisah pertemuan Nabi Yusuf dengan saudara-saudara ini diterangkan dalam surat Yusuf : 58-67.

Nabi Yusuf Menahan Bunyamin

Saat mereka datang lagi ke Mesir bersama Bunyamin, Nabi Yusuf berusaha mencari kesempatan untuk bisa berdua saja dengan Bunyamin, kemudian ia mengatakan padanya bahwa ia adalah Yusuf saudara sekandungnya. Ia menceritakan tentang apa yang telah dilakukan saudara-saudaranya dulu kepadanya dan apa yang telah terjadi padanya.

Nabi Yusuf mempunyai rencana untuk bisa menahan Bunyamin lebih lama bersamanya. Ketika saudara-saudara Yusuf akan pulang, Nabi Yusuf menyelipkan piala untuk minum raja ke dalam karung Bunyamin. Saat mereka akan berangkat, salah seorang pegawai Nabi Yusuf memanggil mereka kembali dan mengatakan bahwa piala raja telah hilang. Barang siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan seberat muatan seekor unta. Saudara-saudara Nabi Yusuf bersumpah bahwa mereka tidak mencuri. Salah seorang pegawai Nabi Yusuf kemudian bertanya ;

"Apa balasannya jika ternyata kalian berdusta?"

Mereka menjawab "Pada siapa diketemukan barang yang hilang itu dalam karungnya, maka dia akan dijadikan budak. Ini adalah balasan yang adil bagi pencuri menurut syariat Yaqub."

Maka mulailah Nabi Yusuf dan para pegawainya memeriksa karung-karung mereka, sengaja karung Bunyamin di periksa paling akhir supaya tidak timbul kecurigaan pada saudara-saudaranya yang lain bahwa pencurian itu telah diatur. Saat piala itu diketemukan dalam karung Bunyamin, saudara-saudara Nabi Yusuf sangat terkejut menyaksikan hal itu. Mereka merasa malu atas peristiwa ini, karenanya mereka berkata "Sesungguhnya telah mencuri pula saudaranya sebelum ini". Tentu saja yang mereka maksud adalah Nabi Yusuf sendiri, Nabi Yusuf memahami apa yang dimaksud saudara-saudaranya ini dan sesungguhnya ia merasa jengkel dan kecewa terhadap mereka, tapi sikap itu tidak diperlihatkannya.

Saudara-saudara Nabi Yusuf memohon agar Bunyamin dibebaskan dan mengambil salah satu dari mereka sebagai penggantinya. Mereka berkata "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami sebagai gantinya. Sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik."

Maka Nabi Yusuf pun menjawab "Aku tidak akan menahan seseorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya. Jika kami menahan orang yang tidak bersalah, maka kami termasuk orang-orang yang dzalim."

Saudara-saudara Nabi Yusuf merasa bingung, mereka telah berjanji pada ayah mereka untuk menjaga Bunyamin dengan sebaik-baiknya. Pastilah ayah mereka akan marah dan tidak mempercayai mereka. Setelah berunding, berkatalah yang tertua diantara mereka "Aku tidak akan meninggalkan Mesir sampai ayah mengizinkan aku kembali, atau Allah memberikan keputusan kepadaku. Dan Dia adalah hakim yang paling adil."

Namun Nabi Yusuf berkata "Kembalilah kepada ayahmu, dan katakan bahwa anaknya telah mencuri dan bahwasanya kalian hanya menyaksikan yang terjadi dan tak mampu menjaga barang yang hilang"

Akhirnya saudara-saudara Nabi Yusuf pulang tanpa Bunyamin, dengan demikian siasat Nabi Yusuf untuk menahan adik kandungnya berhasil. Kisah ini diterangkan dalam surat Yusuf : 68-82.

Nabi Yusuf Berkumpul Kembali Bersama Keluarganya

Nabi Yaqub sangat sedih mendengar kejadian yang menimpa Bunyamin, ia tidak mempercayai perkataan anak-anaknya dan sangat kecewa terhadap mereka. Kendati demikian, ia memasrahkan semuanya kepada Allah dan percaya bahwa Allah pasti akan mewujudkan harapannya untuk bisa bertemu kembali dengan kedua putra tercintanya itu.

Nabi Yaqub memerintahkan anak-anaknya untuk kembali ke Mesir. Kepada Nabi Yusuf mereka memohon belas kasihannya agar ia berkenan melepaskan Bunyamin, mereka pun mengadukan keadaan mereka yang miskin dan membutuhkan makanan dengan harapan Nabi Yusuf mau memberi mereka bahan makanan yang cukup. Timbul rasa iba dalam hati Nabi Yusuf mendengarkan keluhan saudara-saudaranya, sehingga terpikir olehnya untuk mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya supaya mereka bisa tinggal bersamanya dalam keadaan sejahtera. Kemudian ia memanggil Bunyamin, lalu berkatalah Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya ;

"Tahukah kalian akan buruknya perlakuan kalian kepada Yusuf dan saudaranya? Ingatkah kalian akan perbuatan kalian memisahkan Yusuf dan ayahnya dengan membuangnya kedalam sumur? Dan kepada Bunyamin, maka kalian telah membuatnya bersedih atas kehilangan saudaranya sehingga ia pun ikut menderita!"

Mendengar perkataan Nabi Yusuf, mulai timbul dalam diri saudara-saudaranya, jangan-jangan pembesar yang berbicara dihadapan mereka ini adalah Yusuf.

Dengan berdebar-debar mereka bertanya "Apakah engkau Yusuf?"

Nabi Yusuf menjawab "Benar, aku Yusuf dan ini saudaraku Bunyamin"

Maka saudara-saudara Nabi Yusuf pun segera memohon ampun dan meminta maaf kepadanya atas kejahatan yang pernah mereka lakukan dahulu. Denagan lapang dada, Nabi Yusuf memaafkan mereka. Ia lalu memerintahkan saudara-saudaranya untuk menjemput ayahnya beserta keluarga mereka untuk datang ke Mesir.

Mengetahui bahwa ayahnya telah kehilangan penglihatan lantaran kesedihan yang amat sangat semenjak kepergiannya, Nabi Yusuf memberikan gamisnya untuk diusapkan pada wajah ayahnya supaya ia dapat melihat kembali. Setelah mengusapkan gamis Nabi Yusuf ke wajahnya, Nabi Yaqub dapat merasakan keberadaan Yusuf dan segera mengetahui bahwa anaknya, Yusuf masih hidup. Karena gembira dengan kenyataan itu, ia pun dapat melihat kembali dengan seizin Allah.

Akhirnya Nabi Yusuf pun dapat berkumpul kembali dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya di Mesir, Nabi Yaqub dan anak-anaknya telah diliputi rasa hormat kepada Nabi Yusuf yang telah diberi kemuliaan oleh Allah. Mereka pun memberikan penghormatan kepadanya dengan menundukan kepala sesuai dengan adat pada masa itu dalam menghormati pembesar yang berkuasa.

Melihat ini, Nabi Yusuf teringat akan mimpinya dulu ketika ia masih kecil. Maka ia berkata kepada ayahnya "Inilah tafsir mimpiku yang dulu kuceritakan kepadamu, ketika di dalam mimpi aku melihat 11 bintang serta matahari dan bulan bersujud kepadaku." Kisah mengharukan berkumpulnya Nabi Yusuf dengan keluarganya ini terdapat dalam surat Yusuf : 83-101.




LANGGANAN ARTIKEL GRATIS
Dapatkan Artikel Terbaru Disini !
Masukkan email anda di bawah ini , maka anda akan mendapatkan kiriman terbaru dari KUMBERCER secara gratis via email. Terimakasih.

0 Response to "Kisah Nabi Yusuf AS"

Post a Comment

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak...!